Satu Kaos Kaki dan Seni Berdamai dengan Kenyataan
Suatu hari saya dan beberapa teman sedang melakukan kegiatan bakti sosial di sebuah panti asuhan.

Di tengah keramaian, perhatian saya tertuju pada seorang anak kecil yang berlarian sambil tertawa-tawa.
Ada yang sedikit aneh.
Dia hanya memakai satu kaos kaki.
Di kaki kirinya.
Saya menghampiri dan bertanya,
“Kamu suka sekali ya pakai kaos kaki itu?”
Dia mengangguk riang.
“Iya. Setiap hari dicuci, terus saya pakai lagi… nanti kotor lagi.”
Hahahahaha.
Saya kemudian bertanya,
“Lho… kenapa cuma pakai satu?”
Dengan wajah tanpa dosa dia menjawab,
“Karena saya cuma punya satu.”
Lalu dia tertawa dan kembali berlari.
Sesederhana itu.
Tidak ada seminar tiga hari tentang healing kehilangan kaos kaki sebelah kanan.
Tidak ada status media sosial:
“Kadang hidup tidak adil. Orang lain punya sepasang, mengapa aku hanya satu?”
Dia tahu dirinya hanya punya satu.
Dan rupanya, kegembiraan karena masih memiliki satu jauh lebih besar daripada kesedihan karena tidak memiliki dua.
Saya terdiam.
Karena kita yang katanya sudah dewasa justru sering melakukan kebalikannya.
Kita punya sembilan hal baik…
tetapi pikiran sibuk mengadakan rapat direksi membahas satu hal yang hilang.
Ada orang kehilangan uang karena tertipu.
Uangnya memang hilang.
Tetapi bertahun-tahun kemudian, yang terus hilang bukan hanya uangnya.
Ketenangannya ikut hilang.
Kepercayaannya pada orang hilang.
Keberaniannya mengambil keputusan hilang.
Bahkan setiap kali mengingat kejadian itu, ia seperti mentransfer uang lagi kepada si penipu.
Bukan lewat rekening.
Lewat energi hidupnya.
Ada pula yang salah mengambil keputusan investasi.
Harga sudah jatuh.
Keputusan sudah dibuat.
Kerugian sudah terjadi.
Tetapi setiap pagi masih membuka grafik sambil berkata,
“Seandainya waktu itu saya…”

Nah.
Kalimat “seandainya” memang luar biasa.
Ia adalah mesin waktu paling populer di dunia…
yang sayangnya tidak pernah berhasil membawa siapa pun kembali ke masa lalu.
Hal yang sama terjadi dalam hubungan.
Salah memilih pasangan.
Salah mempercayai seseorang.
Salah mengambil keputusan bisnis.
Salah memperlakukan anak.
Salah memilih pekerjaan.
Salah menunda kesempatan.
Lalu bertahun-tahun kita terus mengadili versi diri kita yang hidup pada masa itu…
menggunakan pengetahuan yang baru kita miliki sekarang.
Agak curang, bukan?
Di sinilah acceptance sering disalahpahami.
Acceptance bukan berarti:
“Ya sudahlah, nasib saya memang begini.”
Bukan pasrah.
Bukan malas.
Bukan berhenti berusaha.
Dan jelas bukan duduk bersila menunggu semesta mengirim transferan sambil membakar dupa tujuh aroma.
Acceptance adalah kemampuan untuk berkata:
“Ini yang sudah terjadi. Sekarang, dengan kenyataan yang ada, apa yang masih bisa saya lakukan?”
Karena selama kita sibuk berkelahi dengan kenyataan, energi kita habis untuk sesuatu yang tidak lagi bisa diubah.
Padahal energi yang sama sebenarnya bisa digunakan untuk menciptakan langkah berikutnya.

Coba tanyakan kepada diri sendiri:
Apa yang sebenarnya belum saya terima sampai hari ini?
Uang yang hilang?
Kesempatan yang lewat?
Hubungan yang berakhir?
Kesalahan yang pernah saya buat?
Atau kenyataan bahwa hidup ternyata tidak mengikuti skenario yang sudah saya tulis dengan sangat percaya diri?
Lalu pertanyaan yang lebih nakal:
Apakah saya sedang berusaha memperbaiki hidup… atau sebenarnya masih sibuk menuntut masa lalu agar berubah?
Ups.
Saya suka merangkum acceptance dengan tiga langkah sederhana:
AKU
A — Akui kenyataannya.
Bukan kenyataan yang kita inginkan. Bukan yang seharusnya terjadi. Tapi apa yang memang sudah terjadi.
K — Kenali apa yang masih ada dan masih berada dalam kendali kita.
Kemampuan. Pengalaman. Relasi. Waktu. Kesempatan. Tubuh. Pikiran. Pilihan.
Seperti anak kecil tadi.
Dia tidak sibuk menghitung kaos kaki yang tidak ada.
Dia menikmati kaos kaki yang masih ada.
U — Upayakan langkah berikutnya.
Kecil tidak masalah.
Yang penting bergerak.
Karena acceptance yang sehat bukan akhir perjalanan.
Justru ia adalah titik pijak pertama untuk bergerak dengan jernih.
Kita tidak harus menyukai apa yang telah terjadi.
Kita juga tidak harus mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja.
Tetapi ada satu titik ketika kita perlu berhenti bertanya,
“Mengapa ini terjadi pada saya?”
dan mulai bertanya,
“Dengan apa yang masih saya miliki hari ini, apa yang bisa saya lakukan?”
Karena kedamaian tidak selalu datang ketika semua yang hilang kembali.
Kadang kedamaian muncul…
ketika kita akhirnya menyadari bahwa yang tersisa ternyata masih cukup untuk memulai kembali.

Acceptance bukan menyerah kepada kenyataan.
Acceptance adalah berhenti berperang dengan apa yang sudah terjadi, agar seluruh tenaga kita bisa digunakan untuk menciptakan apa yang belum terjadi.
Dan mungkin…
kita tidak membutuhkan sepasang kaos kaki untuk kembali berlari.
Kadang satu pun sudah cukup.
Asal kita berhenti menangisi yang sebelah.
Anda boleh bagikan artikel ini pada orang-orang yang sedang mengalami kesulitan siapa tahu percikan kecil ini membangkitkan lagi kesadaran bahwa dirinya berlimpah dalam hidup ini.
Dan jika masih kesulitan melepaskan diri dari kekecewaan, kesedihan atau ketakutan maka hipnoterapi adalah salah satu cara yang sangat perlu dipertimbangkan. Ada banyak alumni Academi Hipnoterapi Indonesia yang jam prakteknya tinggi yang dapat membantu melayani sesi hipnoterapi.
Atau Anda juga bisa mengikuti sebuah workshop yang sudah saya jalankan sejak 2012 hingga sekarang dengan ribuan alumni yang mengalami transformasi kehidupan – Life Core Transformation Workshop. Silakan klik berikut untuk tahu informasinya lebih detail: https://lifecoretransformation.com/