Personal Success

3D, 4D, 5D dalam Bisnis

Part   3 of 3 — Mengapa Pemimpin Perlu Bekerja dari Luar dan Dalam

Setelah membahas 3D, 4D, 5D dan hubungannya dengan pikiran bawah sadar dan  hipnoterapi, pertanyaan berikutnya biasanya muncul: “Oke… lalu semua ini gunanya apa dalam bisnis?”

3d a

Nah … kalau setelah memahami kesadaran kita tetap bingung memimpin tim, takut menjual, sulit mengambil keputusan, dan omzet hanya bergerak seperti siput habis meditasi … berarti ilmunya belum turun ke bumi.

🤣

Karena pada akhirnya, kesadaran bukan sekadar sesuatu yang kita bicarakan saat duduk bersila.

Ia terlihat dari:

bagaimana kita mengambil keputusan,
bagaimana kita memperlakukan orang lain,
bagaimana kita menghadapi tekanan,
dan bagaimana kita menjalankan bisnis.

3D — Bisnis Membutuhkan Tindakan

Dalam dunia bisnis, 3D sangat nyata. Ada target. Butuh strategi. Perlu teknik marketing. Perlu adanya sales person yang dikelola. Perlu ada produk yang harus diriset. Butuh sistem agar operasional berjalan dengan baik. Butuh tim. Ada cash flow yang perlu dikelola. Dan masih banyak lagi aktivitas harian yang tidak mungkin disebut satu-satu disini.  Semua itu adalah wilayah yang terlihat.

Kalau omzet turun, pendekatan 3D biasanya bertanya:

“Apa yang perlu kita lakukan?” apakah tambah prospecting? Atau perbaiki iklan? Atau latih tim sales? Atau perbaiki produk? Semua itu penting. Bahkan sangat penting.

Karena bisnis tidak tumbuh hanya karena pemiliknya duduk tenang lalu berkata:

“Saya sudah selaras dengan semesta.” Semesta mungkin ikut senang. Tapi customer tetap menunggu quotation. 🤣

Masalahnya adalah … kadang bisnis owner sudah melakukan banyak hal. Strategi sudah ada. Tim ada. Produk bagus. Pasar ada. Tetapi pertumbuhannya tetap tertahan.

Nah … di situlah kita mulai masuk ke wilayah 4D.

4D — Ketika Masalah Bisnis Ternyata Bukan Masalah Bisnis

Mari kita ambil contoh seorang klien yang business owner dan mengeluh: “Tim saya tidak bisa dipercaya. Kalau saya tidak turun tangan semua lepas kendali walau saya sudah punya sistem”.  Akibatnya ia mengerjakan hampir semuanya sendiri. Ia sulit mendelegasikan. Setiap pekerjaan diperiksa berkali-kali. Kalau bawahan salah sedikit, ia langsung turun tangan.

Di permukaan, masalahnya terlihat seperti: masalah SDM. Tetapi bagaimana kalau di bawahnya ada belief, “Kalau saya tidak pegang sendiri, semuanya akan berantakan.”

Atau lebih dalam lagi, “Saya tidak boleh terlalu percaya pada orang lain.”

Nah … itu bukan lagi masalah struktur organisasi. Itu sudah masuk ke struktur batin.

Dan struktur batin pemimpin hampir selalu ikut masuk ke dalam struktur bisnisnya.

Pemimpin yang sulit percaya … menciptakan tim yang takut mengambil keputusan.

Pemimpin yang takut kehilangan kontrol … menciptakan organisasi yang semuanya bergantung kepadanya.

Pemimpin yang takut konflik … sering membiarkan masalah kecil menjadi besar karena tidak berani menegur.

Lalu suatu hari ia meledak. Dan semua orang bingung: “Lho, kok tiba-tiba marah?”

Padahal bukan tiba-tiba. Itu deposito emosi. Bunganya sudah jatuh tempo. 🤣

Bisnis Sering Kali Menjadi Cermin Dunia Dalam Pemimpinnya

Inilah wilayah 4D.

Di sini kita mulai bertanya:

Apa belief yang sedang mengendalikan keputusan saya?

Apa ketakutan yang membuat saya menahan diri?

Apa pengalaman masa lalu yang sedang saya ulang di bisnis hari ini?

Misalnya, “Saya takut menaikkan harga.” Kelihatannya masalah pricing. Tetapi mungkin di bawahnya, “Kalau saya mahal, orang tidak akan suka saya”, atau problem lain seperti  “Saya sulit menawarkan produk”. Mungkin bukan karena tidak tahu teknik selling. Tetapi ada program pikiran yang berkata, “Menjual berarti mengganggu orang ” atau problem “Saya susah menegur karyawan ”, mungkin ada belief,  “Kalau saya tegas, berarti saya jahat.”

Nah … di sinilah hipnoterapi menjadi relevan. Bukan untuk menggantikan strategi bisnis.

Tetapi untuk membersihkan program internal yang menghambat strategi dijalankan secara maksimal. Karena kadang seseorang bukan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Ia tahu. Sangat tahu. Presentasi PowerPoint-nya bahkan 87 slide. Masalahnya cuma satu:

dia tidak melakukannya atau melakukan dengan setengah hati.🤣

5D — Kualitas Kesadaran Pemimpin Menentukan Kualitas Respons

Lalu kita masuk ke wilayah 5D.

Ini bukan lagi sekadar, “Belief apa yang saya punya?”. Tetapi, “Dari state seperti apa saya sedang memimpin?”

Apakah saya memimpin dari ketakutan, kemarahan, kebutuhan untuk mengontrol, keinginan untuk membuktikan diri atau dari kejernihan, ketenangan, keberanian atau tanggung jawab?

Di sinilah kualitas kesadaran mulai berpengaruh besar terhadap kualitas kepemimpinan.

Dua pemimpin bisa menghadapi masalah yang sama.

Misalnya omzet turun 20%.

Pemimpin pertama langsung bereaksi, “Siapa yang salah?”. Ia menyalahkan tim. Tekanan naik, orang mulai defensif, informasi mulai disembunyikan dan semua orang sibuk menyelamatkan diri.

Pemimpin kedua berhenti sejenak. Ia bertanya, “Apa yang sebenarnya sedang terjadi?”

Data diperiksa. Tim diajak bicara. Masalah ditemukan. Keputusan dibuat. Fakta sama. Tetapi kualitas respons berbeda. Dan di situlah kesadaran berperan.

Pemimpin Efektif Tidak Hanya Mengelola Bisnis

Ia juga mengelola dirinya sendiri. Ini bagian yang sering dilupakan.

Banyak business owner sibuk belajar marketing, sales, finance, strategy, leadership.

Tetapi jarang bertanya: “Siapa diri saya ketika menghadapi tekanan?”.

3d b

Padahal tekanan adalah alat pembesar. Ia memperbesar apa yang sudah ada di dalam.

Kalau di dalam ada fear… tekanan memperbesar fear. Kalau di dalam ada anger… tekanan memperbesar anger. Kalau di dalam ada clarity… tekanan justru memperjelas prioritas.

Karena itu saya melihat kepemimpinan efektif bekerja di tiga wilayah sekaligus:

3D — ACTION

Apa yang perlu dilakukan?

Strategi apa?

Sistem apa?

Target apa?

4D — PROGRAMMING

Apa belief, emosi, dan pola bawah sadar yang sedang memengaruhi keputusan?

Apa yang perlu dibereskan?

5D — AWARENESS

Dari state kesadaran seperti apa saya sedang bertindak?

Apakah saya sedang bereaksi … atau merespons?

Lalu Apa Hubungannya dengan Omzet?

Sangat besar. Tetapi bukan karena meditasi otomatis membuat rekening bank gemuk.

Kalau sesederhana itu, semua vihara sudah menjadi unicorn. 🤣

Hubungannya jauh lebih realistis. Pemimpin yang lebih sadar cenderung membuat keputusan lebih jernih, berkomunikasi lebih efektif, lebih mampu mendelegasikan, lebih berani mengambil tindakan, lebih mampu menghadapi konflik, dan lebih konsisten menjalankan strategi dan mengelola cashflow.

Semua itu dapat meningkatkan kualitas eksekusi bisnis.

Dan kualitas eksekusi yang lebih baik tentu membuka peluang lebih besar untuk meningkatkan produktivitas, meningkatkan penjualan, memperkuat tim, mengelola cashflow dan akhirnya mendorong pertumbuhan omzet dan net profit.

Jadi bukan meditasi → uang turun dari langit. Tetapi, kesadaran → keputusan lebih baik → tindakan lebih efektif → hasil bisnis lebih baik.

Maka Pertumbuhan Bisnis Sebenarnya Punya Dua Arah

Kebanyakan orang hanya bertumbuh ke luar lebih banyak customer, lebih banyak tim, lebih banyak omzet, lebih banyak cabang.

Tetapi kalau pertumbuhan ke luar lebih cepat daripada pertumbuhan ke dalam … suatu saat pemimpinnya bisa menjadi bottleneck dari bisnisnya sendiri. Bisnisnya membesar. Tetapi kapasitas batinnya tidak ikut membesar.

Akhirnya cashflow kacau walau omzet besar, semua harus melalui dia, semua keputusan menunggu dia, semua masalah berhenti di meja dia dan tim hanya menjadi eksekutor dari visi, misi, budaya dan target yang dia pikirkan sendiri.

Dan orang itu kemudian berkata, “Saya punya bisnis”, padahal kadang lebih tepat adalah bisnisnya yang punya dia.🤣

Karena itu pertumbuhan sehat membutuhkan dua arah: Outer Growth dan Inner Growth.

Bisnis berkembang. Pemimpinnya juga berkembang. Dan mungkin di situlah 3D, 4D, dan 5D akhirnya bertemu.

3D membuat kita bertindak.

4D membantu kita memperbaiki program yang mengendalikan tindakan.

5D membantu kita menyadari dari state seperti apa tindakan itu muncul.

Lalu ketiganya menyatu menjadi satu proses:

Awareness membentuk cara berpikir.
Cara berpikir membentuk keputusan.
Keputusan membentuk tindakan.
Tindakan membentuk hasil.

Dan bagi seorang pemimpin … hasil itu bukan hanya omzet. Tetapi juga kualitas tim, kualitas hubungan, kualitas keputusan dan kualitas hidupnya sendiri.

Karena pada akhirnya … bisnis yang besar membutuhkan kapasitas batin yang cukup besar untuk menampungnya.

Kalau tidak, bisnis mungkin tumbuh. Tetapi pemimpinnya yang mengecil di dalamnya.

Feroze Sandy Setyono Bagler CTIHt.

Founder Academi Hipnoterapi Indonesia

Back to top button