Aku Sudah Belajar Mengapa Belum Berubah? – Part 2

Setiap proses transformasi akan membuat orang tanpa sadar memilih satu diantara 2 hal yaitu : “memahami tentang” atau “memahami”.
Perbedaan keduanya sepertinya tipis tapi kalau kita bedah lebih dalam barulah kita akan mengerti dengan gamblang.
Pembahasan ini bertujuan untuk membangkitkan kesadaran sehingga kita mau beranjak dari posisi kita agar benar-benar mengalami transformasi kesadaran – karena banyak orang dalam hidupnya hanya mengalami sedikit transformasi kesadaran walaupun secara kekayaan bertambah.
Ah … bagaimana nih?
Kekayaan bertambah tapi kesadaran belum tentu bertambah maksudnya? Iya benar. Bagian ini kita akan bahas di kesempatan lain.
Kita lanjut bahas perbedaan “memahami tentang” dan “memahami” yaaa.
Apa sih ciri-ciri orang yang “memahami tentang” dan orang yang “memahami” di berbagai aspek hidup?
Yuk kita bahas dulu di aspek kasih sayang atau relasi
1. LOVE — Antara Ngerti Cinta vs Jadi Cinta
Yang “Memahami tentang” akan berkata :
“Cinta itu harus saling komunikasi, saling menghargai, gak boleh toxic.”
Mereka biasanya juga “memahami tentang” :
- Love language
- Attachment style
- Unconditional love
- Vulnerability
Kelihatannya dewasa.
Tapi realitanya begitu pasangan belum balas chat 3 jam langsung deg-degan dan marah-marah lalu :
- cemburu berlebihan – gampang merasa takut kehilangan atau tak aman
- takut ditinggalkan
- butuh kepastian terus sehingga harus selalu mempertanyakan apakah dirinya dicintai
Apakah tindakannya ?
- cek status ‘last seen’ berkali-kali
- stalking IG story
- memantau apakah pasangannya online
- cek apakah pasangan aktif di platform lain
- screenshot untuk dianalisa atau dikirim ke teman minta konfirmasi
- mulai menarik diri dengan : membalas dengan dingin, passive agresive, sengaja slow dalam respon balik sebagai punishment
- kalau ditanya hanya bilang : “gak apa kok, aku lagi jaga boundary dan protect my energy”
Padahal kalau dibongkar sampai kedalam akarnya : “aku terluka karena tindakanmu dan kamu juga harus merasakan ketidaknyamanan juga”
Perlu dipahami bahwa boundary sejati lahir dari kejelasan sedangkan pseudo-boundary lahir dari luka + keinginan untuk mengendalikan.
Mengapa bisa terjadi padahal dia kan sudah belajar semuanya ?
Karena semua yang dipelajari masih konseptual tapi belum mengenali bahwa itu sudah terinternalisasi dalam dirinya.
Dia ngerti teori cinta…
tapi masih menjadikan cinta sebagai tempat minta aman
Ciri-ciri orang yang “Memahami” Cinta:
“Gue sayang… tapi gue gak akan maksa.”
Dia tetap bisa:
- mencintai tanpa mengontrol
- kehilangan tanpa hancur
- dekat tanpa melekat berlebihan
Dia gak pakai cinta untuk mengisi kekosongan
Dia mencintai karena sudah utuh
Saat pasangan telat balas chat 3 jam dia bisa mengenali ada :
- rasa takut ditinggalkan
- takut ditolak
- keinginan untuk mengendalikan
Dia merasakan semua mekanisme internal tersebut tanpa denial dan memilih respon yang lebih dewasa dengan berkata :
“aku merasa komunikasi penting buatku dan kalau kamu butuh space kabari sampai kapan”
Ciri Nyata:
- Tidak panik saat tidak dibalas
- Tidak kehilangan diri saat kehilangan orang
- Tidak menjadikan pasangan sebagai “obat luka lama”
Ia memahami semua itu ada dan merasakannya dan memilih respon yang lebih damai buat dirinya.