Halusinasi Pikiran Membelenggu Kehidupan
Artikel kali ini terinspirasi dari “Allegory of the Cave” karya Om Plato.
Jadi begini ceritanya, bayangkan sekelompok manusia sejak kecil hidup dirantai di dalam gua sebagai tahanan gua. Kepala mereka hanya dapat menghadap ke satu dinding di depan mereka.
Di belakang mereka ada api. Di antara api dan orang-orang yang dirantai ini ada orang-orang membawa patung, benda, serta bentuk-bentuk lain. Cahaya api membuat bayangan benda-benda tersebut muncul di dinding di depan orang-orang yang dirantai.
Karena para tahanan tidak pernah melihat apa pun selain bayangan, mereka menganggap:
Bayangan itulah realitas/kenyataan.
Kemudian salah satu tahanan dibebaskan. Ia menoleh dan melihat api serta benda asli yang selama ini menghasilkan bayangan.
Awalnya matanya sakit. Ia bingung, menolak, bahkan merasa bahwa bayangan lama yang ia lihat di dinding justru lebih nyata.
Ketika keluar dari gua, cahaya matahari membuatnya semakin silau. Tapi akhirnya perlahan-lahan ia mulai melihat dunia lain : pohon, langit, manusia, dan akhirnya matahari yang selama ini dilihatnya sebagai bayangan di dinding.
Ia lalu kembali ke gua untuk memberitahu teman-temannya. Namun karena matanya sudah terbiasa dengan cahaya, ia terlihat kikuk di dalam kegelapan. Para tahanan menganggap perjalanan keluar gua telah merusak otaknya.
Mereka menertawakan, menolak, bahkan dalam versi Plato dikatakan para tahanan dalam gua siap menyerang orang yang berusaha membebaskan mereka.
Nah sekarang yuk kita bedah apa yang terjadi di antara para tahanan yang tidak pernah keluar gua dan orang yang dibebaskan keluar gua.
Makna setiap elemennya
1. Gua: dunia kesadaran yang terbatas
Gua adalah ruang mental tempat manusia hidup berdasarkan:
- kebiasaan
- budaya
- pendapat umum
- ketakutan
- pengalaman masa lalu
- keyakinan yang tidak pernah dievaluasi
Gua tidak selalu berarti dunia fisik. Gua bisa berada di dalam kepala manusia.
Seseorang bisa saja pergi ke luar negeri, punya tujuh sertifikat, punya gelar sampai S3 dan tetap tinggal dalam gua batinnya sambil merasa sudah membeli penthouse kesadaran.
2. Rantai: keyakinan yang membatasi
Rantai melambangkan segala sesuatu yang membuat kita tidak mampu melihat dari sudut lain:
- trauma
- ego
- fanatisme
- identitas
- kebutuhan untuk diterima
- rasa takut mengakui bahwa selama ini kita mungkin salah
- kekerdilan pikiran karena tidak mau menyelidiki detailnya sendiri
Rantainya sering kali tidak terlihat. Tetapi manusia kadang malah bangga mengenakannya.
“Ini bukan rantai. Ini prinsip hidup saya.”
Padahal rantainya cuma besi yang sudah diberi logo dan laminating.
3. Bayangan di dinding: persepsi yang dianggap sebagai kenyataan
Bayangan adalah interpretasi, cerita, atau kesimpulan tentang realitas – bayangan ini tentunya bukan realitas itu sendiri.
Contohnya:
- seseorang tidak membalas pesan → “Dia tidak menghargai saya”
- bisnis sedang turun → “Saya gagal”
- seseorang mengkritik → “Dia membenci saya”
- pasangan diam → “Cintanya sudah hilang”
- teman tidak cerita → “Dia tidak mau percaya saya”
- calon pembeli tidak jadi beli → “Dia tidak mau menolong saya dan menolak saya”
Peristiwanya nyata, tetapi makna yang ditempelkan belum tentu nyata.
Jadi dalam kasus ini : Seseorang tidak merespons kenyataan. Seseorang merespons peta realitas internalnya. Karena kenyataannya belum tentu seperti yang dia persepsikan.
4. Api: sumber penerangan yang masih terbatas
Api memungkinkan tahanan melihat bayangan, tetapi bukan sumber cahaya tertinggi.
Api bisa melambangkan sistem pengetahuan yang tampak menerangi, tetapi masih terbatas:
- pendidikan yang hanya menghafal
- media
- tradisi
- tokoh otoritas
- ideologi
- bahkan ajaran spiritual yang diterima mentah-mentah
Tidak semua yang menerangi otomatis membawa kita pada kebenaran. Hanya yang sudah dijalankan dan terbukti membawa kebaikan pada diri itulah yang boleh dipercaya – walaupun kebaikan itu sendiri juga bisa menjadi jebakan persepsi jika tidak diuji dan ditingkatkan.
5. Keluar dari gua: proses pendidikan dan transformasi
Keluar dari gua bukan sekadar memperoleh informasi baru. Ini adalah proses perubahan kesadaran.
Menurut Plato, pendidikan bukan memasukkan penglihatan ke dalam mata yang buta – karena ini tidak mungkin terjadi. Pendidikan adalah memutar seluruh jiwa agar menghadap ke arah yang benar.
Karena itu transformasi sering tidak nyaman. Cahaya pertama-tama terasa menyakitkan.
Kebenaran tidak selalu terasa membebaskan pada saat pertama.
Kadang ia terlebih dahulu terasa menghina ego.
6. Matahari: kebenaran tertinggi
Matahari melambangkan apa yang Plato sebut Form of the Good—Sang Kebaikan sebagai sumber pengetahuan, kebenaran, dan keberadaan.
Sebagaimana matahari membuat benda dapat terlihat, “Yang Baik” memungkinkan manusia memahami apa yang benar dan bagaimana hidup seharusnya dijalani. Dan ini hanya bisa dialami bukan sekedar percaya apa kata orang, apa kata tokoh, apa kata buku.
Karena “mengalami sendiri” dan “percaya apa katanya” adalah dua realitas yang sangat berbeda.
Ini juga bukan sekadar menjadi pintar. Seseorang bisa sangat pintar membaca bayangan dan tetap tidak pernah melihat matahari.
7. Kembali ke gua: tanggung jawab seorang pemimpin
Bagian ini sering dilupakan.
Orang yang sudah keluar dari gua tidak diminta menikmati pemandangan sendirian sambil membuat status:
“Aku sudah awakened. Kalian masih 3D.”
Dalam “The Republic “tulisan Plato, dikatakan bahwa filsuf harus kembali ke gua dan membantu masyarakat. Pengetahuan membawa tanggung jawab, bukan sekadar identitas spiritual baru.
Namun ketika ia kembali, orang-orang bisa menolaknya karena kebenaran baru mengancam sistem kenyamanan lama. Orang-orang yang di dalam gua dan tidak pernah keluar akan menentangnya dan menganggapnya gila – sampai ada yang tersadarkan dan mau belajar.
Dalam praktek hipnoterapi dan coaching yang saya alami sehari-hari, klien sering datang bukan karena realitasnya terlalu berat, tetapi karena ia selama bertahun-tahun memandang bayangan pengalaman lama sebagai realitas hari ini.
Contohnya:
- dahulu tidak mendapatkan waktu yang cukup dari orangtua → sekarang menganggap dirinya tidak layak
- dahulu dipermalukan → sekarang takut tampil
- dahulu kehilangan uang → sekarang percaya uang selalu membawa bahaya
- dahulu cinta menyakitkan → sekarang menganggap kedekatan pasti berakhir dengan luka
Masalahnya bukan lagi peristiwa asli. Peristiwanya mungkin sudah berlalu puluhan tahun.
Masalahnya adalah bayangan peristiwa itu masih diproyeksikan ke dinding batin dan dianggap sebagai kenyataan.
Akibatnya adalah keputusan apapun dalam bidang keuangan, bisnis, karier dan kesehatan yang dibuat sekarang pasti dipengaruhi oleh bayangan pengalaman lama tersebut. Dan inilah yang disebut mental blok – yang bekerja sangat halus di level pikiran bawah sadar yang seringkali tidak disadari.
Proses hipnoterapi dengan pendekatan transcendental client centered yang diterapkan di Academi Hipnoterapi Indonesia dapat membantu klien:
- menyadari bahwa yang ia lihat selama ini adalah proyeksi
- menoleh ke sumber proyeksi
- melepaskan rantai emosionalnya
- keluar dari gua interpretasi lama
- melihat hidup dengan kesadaran baru
Sebagai klien juga perlu punya pandangan netral dalam memandang praktisi hipnoterapi. Karena hipnoterapis pun punya bayangan, bias, luka, dan kebutuhan untuk dianggap benar – tetapi ia dapat membantu klien karena dalam pendekatan transcendental client centered seorang hipnoterapis bukan pencari solusi (pembuat solusi). Solusi selalu datang dari dalam diri klien yang dipandu hipnoterapis melalui serangkaian prosedur.
Jadi sebagai praktisi hipnoterapi jangan merasa diri otomatis sudah berada di luar gua hanya karena memegang senter hahaha. Karena itu bagi praktisi hipnoterapi melatih kesadaran diri lebih penting daripada sekedar mengkoleksi tumpukan teknik.
Alegori Gua dari Plato tidak hanya berbicara tentang orang bodoh yang belum mengetahui kebenaran.
Ia berbicara tentang kita semua – saya dan para pembaca.
Kita tidak menderita hanya karena dunia tidak sesuai keinginan.
Kita sering menderita karena mengira bayangan dalam pikiran adalah dunia itu sendiri.
Dan ironi terbesar manusia:
Ia lebih mudah mempertahankan realitas palsu yang familier daripada menerima kebenaran yang membebaskan tetapi asing.
Itulah sebabnya orang kadang lebih memilih rantai yang dikenal daripada kebebasan yang belum bisa diprediksi.