Aku Sudah Belajar Mengapa Belum Berubah? -Part 4
Hohoho akhirnya sampai bagian terakhir nih dari topik ini.

Sebagai Peak Performance and Mindset Coach dari banyak pemilik bisnis saya seringkali terkaget-kaget ketika mendengarkan curhat mereka ketika saya memulai karier ini di tahun 2010. Karena hal yang sepele pun dan untuk kepentingan bisnis mereka masih saja dilakukan secara overkill (berlebihan) dan ditunda atau bahkan tidak dilakukan Padahal faktor motivasi utama untuk bergerak sebenarnya sudah jelas terpampang di depan mata – salah satunya adalah loss atau kerugian dan kacaunya cashflow.
Tetapi sebagaimana kerja bawah sadar yang begitu halus semua itu tidak disadari. Pikiran sadar ingin profit lebih banyak dengan cara lebih efektif tapi pikiran bawah sadar bisa jadi melakukan sabotase dengan cara memunculkan dorongan untuk menunda atau menganalisa lebih banyak sampai akhirnya tidak bergerak atau bahkan dengan cara melakukan dorongan untuk mengeluarkan uang melalui cara-cara yang tampaknya logis dan masuk akal sampai akhirnya kehabisan cashflow.
Godaan untuk merasa ‘saya sudah tahu’ adalah jebakan terbesar bagi seorang pemilik bisnis – apalagi ditunjang dengan posisi pemilik bisnis sebagai puncak tertinggi dalam organisasinya dimana tidak ada yang bisa menegur atau mengingatkan.
Keberhasilan kecil-kecil seringkali juga meningkatkan dosis ‘saya sudah tahu’ sehingga meninggikan tembok pertahanan untuk menerima nasehat atau kritikan dan akhirnya itu juga membutakan terhadap hal-hal fundamental dalam sebuah bisnis.
Akhirnya ……
Pemilik bisnis terjebak dalam kondisi “saya memahami tentang”.
Yuk, kita lihat beberapa ciri-cirinya.
Pemilik bisnis yang “Mengetahui Tentang” bisnis berpikiran :
“Bisnis harus punya sistem, teknik marketing, pola leadership yang mapan.”
Tapi saat:
- ditolak → baper
- gagal → menyalahkan
- sepi → overthinking
- cashflow terkuras → panik
- bisnis kecolongan → menghakimi anak buah
- target tak tercapai → marah pada anak buah
Mereka tahu cara mainnya … tapi mentalnya belum siap main.
Sekarang kita lihat ciri-ciri orang yang kondisi mentalnya benar-benar “memahami” :
Orang-orang yang “memahami” bisnis berpikiran :
“Gue gak tahu semuanya. Tapi gue jalan sambil belajar dari pengalaman dan orang-orang yang bakal gue temui dan langsung praktek. Gue akan berpikiran terbuka dan fleksibel serta mengamati perasaan apa yang melatarbelakangi keputusan gue”
Akibatnya mereka :
- tetap gerak walau belum yakin
- belajar dari hasil, bukan drama
- ambil tanggung jawab tanpa cari kambing hitam
- berdiskusi sebelum ambil keputusan bukan minta validasi dan sekedar memberikan informasi
Pemilik bisnis dalam golongan ini bukan sekadar menjalankan bisnis mereka menjadi energi stabil di dalam bisnis.
Sekarang kita lihat lebih dekat apa ciri nyatanya :
- Tidak reaktif terhadap hasil jangka pendek
- Tidak butuh validasi terus dari tim atau market
- Tetap konsisten bahkan saat tidak ada hasil instan
- Punya kejelian dalam mengelola cashflow untuk jangka panjang
- Tetap tenang dalam situasi sulit
Pemilik bisnis yang “memahami” adalah orang-orang yang terus belajar mengenal diri mereka sendiri dan memandang bisnis sebagai arena evolusi kesadaran.
Mereka bisa membedakan bahwa target adalah alat ukur dan sarana belajar bukan ukuran untuk menentukan sehebat apa atau setidak berharga apa seseorang.
Sampai disini yaa pembahasannya. Kalau dilanjutkan nanti bisa menjadi buku hahahaha bukan lagi artikel.
NOTE :
Kalau mau belajar lebih dalam tentang diri sendiri agar prestasi bisa melejit sementara tingkat kesadaran makin naik silakan pelajari “21 Days Success Mastery”. Ini adalah kumpulan audio dan pdf yang akan Anda terima selama 21 hari membahas tentang 5 aspek fundamental kehidupan yang wajib dikuasai. Dan kabar baiknya ini FREE untuk sementara waktu. Silakan klik link berikut untuk mengaksesnya : https://21dsm.ariesandi.com