Apakah Anda pernah kesal karena apa yang Anda sampaikan tidak dipahami oleh orang lain padahal Anda sudah menyampaikan dengan jelas ? Orang lain yang saya maksud dalam artikel ini bisa anak, pasangan atau bisa juga partner kerja atau calon pelanggan Anda.

Apakah Anda pernah merasa susah menjelaskan sebuah konsep baru pada orang lain padahal menurut Anda itu mudah ?

Apakah Anda pernah mendengarkan seseorang berbicara dan begitu memukau sampai Anda terpesona dan mengikuti setiap perkataannya dengan penuh antusias?

Apakah menurut Anda penting untuk bisa berbicara sehingga orang lain mau mendengarkan Anda bahkan menunggu-nunggu apalagi yang akan Anda katakan?

Tak bisa dipungkiri komunikasi adalah hal penting dalam kehidupan seseorang. Anda memerlukan komunikasi dengan anak, pasangan, orangtua, bawahan, partner kerja dan dengan calon pelanggan atau pelanggan Anda. Satu hal penting yang perlu dipahami adalah – komunikasi tidak sama dengan berbicara. Ahhh … apa bedanya yaa ?

Seseorang yang bisa berbicara belum tentu bisa berkomunikasi dengan baik. Seseorang disebut bisa berbicara saat bisa mengatakan atau menyampaikan rangkaian kata-kata tertentu. Tetapi apakah rangkaian kata-kata itu dimengerti oleh orang lain sesuai dengan dia maksud atau tidak itu adalah aspek lain.

Komunikasi adalah proses menyampaikan rangkaian kata-kata tertentu yang akhirnya bisa dipahami oleh orang lain sesuai dengan yang dimaksudkan. Nah hal ini tentunya menuntut keahlian lebih tentang pemahaman psikologi manusia.

Bayangkan bagaimana asyiknya jika Anda bisa mengatakan sesuatu dan orang lain tergerak untuk melakukan hal itu dengan sukarela seakan-akan itu adalah idenya mereka sendiri.

Untuk itu Anda perlu memahami beberapa kunci penting dalam komunikasi. Ada suatu pengalaman lucu yang diceritakan oleh murid saya. Beliau seorang dokter bedah dan bermaksud melakukan hipnoanestesi pada pasiennya. Hal ini dilakukan karena pasien mempunyai alergi terhadap obat bius. Hipnoanestesi adalah teknik membuat pasien mati rasa pada bagian tubuh tertentu tanpa obat bius kimia untuk kemudian dilakukan pembedahan tumor. Pasien ini diinstruksikan untuk relaks. Tetapi selama beberapa saat tubuhnya tetap saja tidak relaks. Sang dokter mulai berpikir apakah ada instruksinya yang kurang dipahami. Akhirnya ia memberikan contoh apa yang dimaksud dengan relaks. Lalu pasiennya mengatakan, “Ohhh … itu namanya ikhlas Dok, kalau ikhlas seperti itu saya bisa”.

Hahahaa … ternyata persepsi pasien berbeda dengan persepsi dokter. Untung saja sang dokter ingat pelajaran dalam kelas saya bahwa tak ada orang yang tak bisa dihipnotis kecuali dia kurang mengerti kata-kata yang kita sampaikan. Oleh karena itu dia berusaha mencari apa yang tidak dimengerti dengan teknik-teknik yang telah saya ajarkan di kelas dan akhirnya ketemu permasalahannya.

Nah oleh karena itu prinsip pertama dalam komunikasi yang baik adalah : hindari penyamarataan (generalisasi).

Jika sang dokter dalam kasus diatas menganggap pasien mengerti apa yang dia pahami tentang relaks maka tentu akan gagal menghipnotis si pasien. Tapi karena dia berusaha mencari tahu apakah makna kata-katanya dipahami maka akhirnya dia menemukan letak kesalahpahamannya.

Dalam komunikasi sehari-hari berapa sering orang menyamaratakan persepsinya tanpa memeriksa apakah yang disampaikannya dipahami sesuai maksudnya oleh orang lain.

Orangtua mengatakan,”Jadi anak yang baik yaa”. Hmm … anak yang baik ini kategorinya apa? Ketika orangtua mendapati anak main buka tutup kran air lalu muncullah kalimat, “Aduh jangan nakal kenapa sih, kan jadi basah semua lantainya!”.

Padahal anak ingin tahu apa yang terjadi dengan kran itu kok bisa mengucurkan air. Apakah ingin tahu itu buruk ? Bagaimana jika anak Anda tumbuh dengan tanpa memiliki rasa keingintahuan akan segala sesuatu di sekitarnya? Apakah anak yang ingin tahunya besar bukan termasuk anak yang baik ???

Di kantor sering terdengar kata-kata dari bos : “kalau kerja yang baik dan rajin ya”, “kalau menemui calon pelanggan jelaskan yang baik yaa”. Dan ternyata apa yang dilakukan anak buah tidak seperti yang Anda gambarkan di pikiran Anda. Padahal menurut anak buah mereka sudah melakukan seperti yang Anda katakan. Perhatikan kata yang saya tebalkan. Di situlah letak salah pahamnya.

Anda memiliki gambaran di pikiran tetapi gambaran itu Anda buat umum saat menyampaikan instruksi. Sementara anak buah Anda hanya menangkap perkataan Anda tanpa bisa melihat gambaran apa yang ada di pikiran Anda. Akhirnya mereka melakukan apa yang mereka dengar sesuai dengan gambaran yang terbentuk dalam pikiran mereka. Dannnnnn … … ternyata menurut Anda … salah!!! Hahahahahaha …

Karena itulah muncul istilah Key Performance Indicator (KPI) untuk mengukur apa yang dimaksud dengan “kerja yang baik”. Dalam KPI jelas dan detail sekali indikator apa yang diminta untuk dilakukan bahkan juga ada penghargaan untuk merangsang orang melakukan hal tersebut sehingga memiliki daya tarik secara emosi.

Jadi saat Anda menyampaikan sesuatu pastikan Anda juga menyampaikan gambaran apa yang ada di pikiran Anda. Misalnya, “Kalau berpakaian yang rapi ya, maksud saya di baju tak boleh ada kerutan dan lipatan jadi pastikan disetrika dengan rapi, lalu dimasukkan dalam celana dan warna baju harus cerah seperti putih, kuning muda, biru muda, cream muda, hijau muda.”

Hal penting yang perlu diperhatikan adalah penggunaan kata sambung “dan” dan “tapi”. Kata ini sering digunakan namun seringkali penggunaannya kurang pas sehingga tidak efektif dalam upaya memengaruhi orang lain.

Kata “tapi” memiliki efek meniadakan pengaruh dari kalimat di depannya. Misalnya dua buah kalimat :

Si A cerdas

Si A kurus

Jika kita gunakan kata sambung tapi maka jadinya bisa :

Si A cerdas tapi kurus.

Atau …

Si A kurus tapi cerdas.

Nah perhatikan efek ilusi yang ditimbulkan di pikiran pada kalimat sambung pertama. Si A cerdas tapi kurus. Kata “tapi” menghapus makna baik dari kata “cerdas”. Sebaliknya pada kalimat kedua : Si A kurus tapi cerdas maka kata “tapi” jadi meniadakan arti kata “kurus” dan orang yang mendengar jadi punya pemikiran “tak apa kurus asal cerdas”.

Yang berikutnya adalah kata “dan”. Kata ini mempunyai fungsi menyambungkan dua kalimat yang sepertinya tidak berhubungan menjadi satu kesatuan yang utuh. Contoh kalimat :

Ayo cari tempat makan yang nyaman

Saya akan menjelaskan keuntungan produk ini sehingga bisa Anda pahami

Kalimat gabungan : Ayo cari tempat makan yang nyaman dan saya akan menjelaskan keunggulan produk ini sehingga bisa Anda pahami saat memutuskan membeli

Nah kedua kalimat itu sebenarnya tak ada hubunganya. Seseorang bisa saja memahami penjelasan di kantor tanpa perlu ke rumah makan. Di kalimat tersebut sudah ada prasyarat yang di sugestikan yaitu “… bisa Anda pahami saat memutuskan membeli”.

Bisa merasakan efeknya di pikiran ? Memang semua hal di atas tidak menentukan 100% oranga akan mengambil tindakan sesuai yang Anda pikirkan. Tetapi paling tidak komunikasi Anda memiliki pengaruh besar dalam pengambilan keputusan atau tindakan orang lain.

Artikel kali ini jadi seperti belajar bahasa Indonesia yaa … hahahahahahhaha.

Tapi mengasyikan sekali, benar kan? Seandainya bahasa Indonesia diajarkan dengan cara seperti ini dimana tujuannya untuk memengaruhi pikiran orang lain pasti akan banyak siswa yang berminat wakakakakaka.

Oke untuk kali ini saya cukupkan sampai disini dan saya akan membahas yang lebih seru lagi di edisi berikutnya.

 

Salam hebat

Ariesandi S., CHt

www.ariesandi.com

Share This