Kebiasaan DestruktifBeberapa waktu yang lalu, seorang ibu datang ke klinik saya untuk berkonsultasi dan mengeluhkan dirinya yang merasa tidak berkembang dan merasa hidupnya ‘gitu-gitu’ saja.

Setelah interview awal dan penelusuran lebih jauh ternyata ditemukan bahwa ibu ini ternyata memiliki sebuah kebiasaan destruktif (bersifat merusak) yang sudah sedemikian parahnya sehingga menyebabkan sabotase kesuksesannya sendiri.

Kebiasaan ini tampaknya sepele tetapi statistik dan riset menunjukkan bahwa banyak sekali orang tidak berhasil mencapai prestasi tinggi, memiliki kesehatan prima dan kebahagiaan karena memiliki kebiasaan destruktif yang bersifat merusak ini.

Apa kebiasaan destruktif yang saya maksud yang dimiliki si ibu ini?

Kebiasaan ini adalah kebiasaan suka melakukan penundaan atau suka menunda-nunda dalam mengerjakan segala sesuatu.

Kembali ke cerita si ibu tadi, awalnya dia beralasan bahwa dia sering melakukan penundaan karena merasa ada tugas yang lebih penting yang harus diselesaikan.

Dia merasa bahwa akan bisa melaksanakan pekerjaan yang ditundanya tadi Memang pada akhirnya ia bisa melaksanakan tugas yang ditundanya, tetapi pada detik akhir dari batas waktu yang ada.

Tetapi yang kemudian terjadi adalah seperti sebuah ungkapan :

Pola Pikir membentuk Kebiasaan. Kebiasaan membentuk Karakter. Karakter membentuk Nasib. Nasib menguatkan Pola Pikir kembali.

Demikianlah yang terjadi pada kasus ibu tersebut di atas. Awalnya ia menunda hal-hal kecil namun akhirnya tanpa disadarinya kebiasaan menunda tersebut berkembang makin parah dan makin luas secara perlahan-lahan.

Awalnya hanya menunda pembayaran rekening bulanan seperti tagihan listrik, tagihan air dan tagihan kartu kredit sampai pada batas terakhir.

Kemudian hal tersebut berlanjut pada keterlambatan pembayaran selama 1-2 hari dari tagihan-tagihan tersebut.

Ia pun mulai menggunakan berbagai cara untuk mengingatkan seperti memasang alarm pengingat di smart phonenya. Namun setiap kali alarm berbunyi untuk mengingatkan pembayaran ia menundanya hingga akhirnya terlambat lagi dan terkena denda lagi.
Dan akhirnya ia menggunakan metode pembayaran otomatis dari rekening kartu kreditnya. Problem pembayaran tagihan selesai!

Apakah dengan demikian kebiasaan menundanya sembuh? Tidak semudah itu!

Ia mulai memerhatikan ternyata ia banyak menunda-nunda melakukan olahraga dan diet sehat yang harusnya ia tempuh demi menjaga kesehatannya.

Ia sadar bahwa rapor kesehatannya jelek. Dan ia tak mau tergantung obat-obatan kimia. Karena itu ia mulai memelajari pola makan sehat dan jenis olah raga yang cocok untuk dirinya.

Setelah belajar dia semangat namun penerapannya tak kunjung tiba. Ia masih merasa sehat dan masih bisa melakukan aktivitas dengan lancar. Dan medical check up yang tadinya lancar sekarang pun mulai ditundanya juga. Karena ia takut melihat hasilnya yang bisa memaksa dia untuk melaksanakan diet dan olahraga.

Apakah masalahnya teratasi?

Untuk sementara masalah yang sebenarnya masih terpendam. Namun ingatlah bahwa masalah penundaan adalah seperti memasang bom waktu yang tidak diketahui kapan akan meledak.

Suatu pagi ia bangun dan merasakan tangannya kesemutan dan kaki kirinya sulit untuk digerakkan. Ia tahu bahwa kadar asam uratnya sudah begitu membahayakan dan mulai unjuk gigi. Ia segera berteriak memanggil anaknya untuk minta obat dan buru-buru meminumnya.

Ia sadar bahwa inilah saatnya bertindak dan bahwa Tuhan telah mengirimkan peringatan untuk dirinya untuk segera mengubah pola makan dan olahraga.

Beberapa hari kemudian saat kondisi dirinya membaik karena minum obat dan menghindari makanan tertentu ia mulai beraktivitas dan melupakan komitmennya untuk berolahraga dan mengubah pola makan.

Ia berpikir bahwa semuanya masih bisa dikendalikan. Namun tanpa ia sadari monster di dalam dirinya perlahan tapi pasti berkembang menjadi makin besar.

Apakah penundaan yang ia lakukan hanya terjadi di aspek kesehatan saja?

Ternyata tidak! Kebiasaan menunda ini benar-benar menjadi bagian karakter dirinya.

Pekerjaan kantornya seringkali harus melewati batas waktu yang ditentukan. Akibatnya adalah pekerjaan tersebut diselesaikan dengan asal-asalan karena sudah kehabisan waktu untuk dikerjakan dengan sempurna.

Atasannya sudah memeringatkannya untuk bisa mengatur waktu dengan lebih baik. Namun hebatnya pikiran bawah sadarnya masih bisa mengatakan bahwa “everything is under control”.

Itulah mekanisme pembelaan diri atau pembenaran diri. Banyak orang terjebak dalam mekanisme tersebut.

Hal itu bisa terjadi karena manusia adalah mahluk yang mudah mentoleransi dirinya sendiri. Karena terlalu mudah mentoleransi akhirnya pada suatu hari di ujung jalan ia menyadari telah melenceng dari arah yang ia rencanakan.

Banyak orang menyadari masalah setelah masalah tersebut telah menjadi besar.

Apakah Anda juga pernah merasakan hal yang sama seperti kasus seperti yang saya ceritakan di atas?

Apakah Anda juga termasuk orang yang menunda sampai segalanya menjadi parah berdarah-darah baru bertindak atau yang sebaliknya?

Jika Anda juga merasa terkadang atau sering melakukan penundaan, Anda akan menyukai apa yang akan saya sharingkan di artikel berikutnya.

Di artikel berikut, Saya akan membahas tentang 8 Penyebab Mengapa Orang Suka Menunda dan Bagaimana Mengatasinya

Tetapi sebelum membaca artikel tersebut, tolong tuliskan di bagian komentar di bawah ini, apakah Anda termasuk orang yang pernah atau sering menunda-nunda dalam melakukan sesuatu? Thanks.

Salam Hebat untuk Anda,

Ariesandi C.Ht
Peak Performance Coach

Share This